2/06/2009

Secara filosofis, gagasan para pemikir politik Islam Modern sesungguhnya masih aktual hingga kini. Misalnya Pan – Islamisme atau Pan – Arabisme yang secara substansial menghendaki adanya persatuan dan kesatuan bangsa Arab. Para pemikir juga sepakat untuk menggalang solidaritas umat guna mengantisipasi munculnya pemerintahan despotik dan sentralisme kekuasaan.
Syaripudin menyebutkan tokoh-tokoh Islam yang terlibat dalam ranah intelektual dan aksi politik ini diantaranya Rifat al-Thantawi, Jamaluddin al-Afghani, Khairudin al-Tunisi, Abdurrahman al-Kawakibi, Ziya Gokalp, Ali Abd al-Raziq, Rasyid Ridha, Sayyid Abul A’la al-Maududi dan Taqiyuddin an-Nabhani. “tema-tema politik yang diusung para pemikir Islam ini relatif sama. Misalnya gagasan nasionalisme Arab (Pan – Arabisme), Pan – Islamisme, sistem khilafah dan Dawlah Islamiyyah,” kata ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo, Metro, Lampung.
Doktor kajian politik UIN Jakarta ini membagi tiga paradigma seputar pergolakan politik Islam modern. Pertama, paradigma tradisionalisme yang diwakili oleh Rasyid Ridha. Dalam pandangan tradisional, kekhalifahan hukumnya wajib karena didasarkan pada syariah dan ijma’. Karena itu, Ridha mewajibkan penegakan negara khilafah sebagai perintah syar’i sebagaimana pernah diterapkan pada masa al-Khulafa al-Rasyidin. Kedua, paradigma fundamentalisme.
Pemikiran yang muncul pada paruh pertama abad XX ini dipelopori oleh Hassan al-Banna, al-Maududi, dan an-Nabhani. Menurut paradigma ini, Islam telah menetapkan bentuk dan sistem pemerintahan dengan sistem khilafah dan menjadikannya sebagai satu-satunya sistem bagi Dawlah Islamiyah. Ketiga, paradigma sekularisme; dipelopori oleh Ali Abd al-Raziq. Cara pandang sekular ini meyakini bahwa Islam tidak ada kaitannya dengan kekhalifahan, termasuk kekhalifahan al-Khulafa al-Rasyidin.
Atas dasar ini, al-Raziq beranggapan bahwa Islam tidak menetapkan suatu rezim dan tidak memerintahkan agar umat Islam menganut suatu sistem tertentu. Islam memberikan kebebasan absolut kepada manusia untuk mengorganisasi negara sesuai dengan kondisi intelektual, sosial dan ekonomi dengan mempertimbangkan faktor sosial dan tuntunan zaman.
Dari tiga paradigma tersebut, dimana posisi al-Kawakibi yang menjadi objek penelitian pria kelahiran Lampung, 11 Agustus 1966 ini? “al-Kawakibi mungkin menempati posisi tradisionalisme Islam,” kata Syaripudin. Al-Kawakibi sepaham dengan Ridha dalam hal otoritas Quraisy sebagai pewaris kekhilafahan, namun mereka berbeda pandangan dalam soal institusinya. Bagi Ridha, hanya ada satu lembaga khilafah yang berlaku universal bagi umat Islam.
Sementara al-Kawakibi membingkainya dalam skala regional Arab. Pada spektrum lain, kata Syaripudin, al-Kawakibi menyetujui prinsip-prinsip dasar-dasar Islam untuk dioperasikan dalam kerangka Dawlah Islamiyyah (Negara Islam). Konsepsi ini dijadikan alasan pendukung fundamentalisme Islam. Namun perbedaan pandangan terjadi dalam implementasi prinsip-prinsip mengenai konstelasi pemerintahan Islam.
Syaripudin mengakui, dalam batas-batas tertentu ide-ide pemikiran politik para reformis Muslim ini mampu membangkitkan kesadaran umat Islam akan pentingnya persatuan dan penegakan nilai-nilai demokrasi dalam sistem pemerintahan. Artinya, ungkap komentator politik di Radio Smart FM Palembang ini, pada tataran ideologi mereka berhasil membentuk arus utama (mainstream) pemikiran umat Islam akan pentingnya penegakan nilai-nilai demokrasi sehingga mampu membatasi rezim otoriter. Namun harus diakui juga bahwa pada tataran aksi, ide-ide pemikiran mereka mengalami kesulitan untuk diterapkan.
Buktinya, di Timur Tengah sendiri saat ini masih berkecamuk konflik politik yang berkepanjangan. Hingga kini gagasan yang disebut Dawlah Islamiyyah, Pan-Arabisme atau Pan-Islamisme pun belum pernah terbentuk disana. Apalagi penerapannya didunia Islam yang tersebar diseluruh penjuru dunia.
Syaripudin tak bermaksud menghakimi ide-ide pemikiran politik kaum reformis Muslim maupun mengecilkan makna perjuangan mereka. Namun, ia hendak mengatakan bahwa pada tataran praktis pemikiran politik Islam modern yang dikumandangkan oleh para reformis Muslim tersebut telah mengalami kegagalan. “Sebab pada aksinya hingga saat ini belum terbentuk Dawlah Islamiyyah,” tegas pengagum K.H Imam Zarkasyi dan Dr Harun Nasution ini. Ia juga menyangsikan, munculnya ide Negara Islam atau penerapan hukum Islam di Indonesia, yang boleh jadi hanya romantisme historis-normatif mengingat bangsa Indonesia bersifat pluralistik.
Mainstream al-Kawakibi
Salah seorang tokoh modernis muslim yang terlibat secara intensif mengamati atmosfir politik dan keagamaan di masa itu adalah al-Kawakibi. Pemilik nama lengkap Abdurrahman Afandi al-Kawakibi ini dilahirkan di Aleppo, 1848, dan meninggal dunia secara mendadak tahun 1902.
Seperti kebanyakan modernis lainnya, ia memandang bahwa penyebab kejumudan yang dialami kaum Muslim vis a vis masyarakat Barat Kristen secara internal adalah akibat praktik pemerintahan tirani, kehancuran kebudayaan Islam, dan tidak adanya unsur pengikat baik ras maupun bahasa. Selain itu, al-Kawakibi melihat bahwa Islam mengalami kehancuran karena banyaknya praktik bid’ah yang terutama berakar dari ekses-ekses mistisisme, juga sikap taklid (peniruan membabi buta), stagnasi pemikiran, serta kegagalan membedakan antara unsur esensial dalam Islam dan yang tidak.
Al-Kawakibi melontarkan kritik tajam terhadap kalangan penguasa Islam yang menurutnya telah mendorong tumbuhnya sikap pasif dan taklid serta berbagai bentuk penarikan diri dari urusan dunia yang pada gilirannya semakin memperkokoh absolutisme penguasa. Al-Kawakibi mengingatkan tentang peran despotik dan para penguasa tiran yang merusak Islam dan para pengikutnya.
Negara despotik, menurut al-Kawakibi, melakukan pelanggaran atas hak-hak warganya dengan membiarkan mereka berada dalam kebodohan dan kepasifan hidup bermasyarakat. “semua itu akan merusak hubungan antara penguasa dan rakyat dan hubungan antar warga,” tegas Syaripudin. Gaya penguasa ini katanya, akhirnya menekankan bahwa setiap kekuasaan, apapun bentuk dan sifatnya, berpotensi menjadi tiran disebabkan oleh dua hal, yaitu kebodohan masyarakat dan militerisme yang terorganisir.
Sebaliknya, al-Kawakibi memberikan gambaran tentang negara yang adil sebagai sebuah negara yang memberikan kebebasan kepada setiap warganya untuk menentukan tujuan, dan menjamin kebebasan dan kemerdekaan berpendapat, memeluk keyakinan dan memperoleh keadilan serta keamanan. Peran pengausa dalam negara yang adil adalah mengawasi praktek kebebasan warganya. Sebaliknya, negara juga dikontrol oleh rakyatnya.
Labels: Artikel
2/05/2009
BERBEKAL motivasi, Syaripudin Basyar kecil berangkat ke Ponorogo, Jawa Timur, untuk mengenyam pendidikan di Pondok Modern Gontor. Ternyata, keputusan mondok di Gontor itu bukanlah pilihan asal-asalan. "Ayah saya survei dulu. Ada enam pondok yang disurvei beliau," kata Syaripudin.
Enam pesantren yang disurvei H. Basyarudin--ayah Syaripudin Basyar-- itu tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura. "Akhirnya, ayah saya memutuskan ke Gontor," ujar Syaripudin mengenang kejadian 27 tahun lalu itu.
Akhirnya, ia melangkahkan kaki ke pondok pesantren itu. Rasa rindu kepada ibunya, Hj. Siti Aisyah lambat laun terobati dengan asyiknya belajar dan ngaji di pesantren itu. "Tak terasa, enam tahun saya di sana," ujar suami Asnah Yusfit ini.
Sebagai anak sulung, Bung--begitu sapaan Syaripudin di keluarganya--tidak sempat berleha-leha. Tidak ada privilese untuk dia sebagai putra pertama di keluarga. "Ini benar-benar memotivasi saya. Seperti orang Lampung kebanyakan, ayah saya memang keras dalam hal agama dan pendidikan. Ini juga yang mengantar bisa seperti ini," kata ketua Ika PMG Lampung yang juga staf pengajar di Program Pascasarjana IAIN Radin Intan Bandar Lampung.
Sosok ayah memang begitu besar memengaruhi Syaripudin. Ayahnya yang membuat dia terpacu terus bertahan di Gontor.
Walaupun petani tamatan sekolah sekolah rakyat, ayah Syaripudin gemar membaca surat kabar. "Selain suka ngebaca, ada yang dicari beliau. Itu...perkembangan harga komoditas," kata dia.
Sang ayah jualah yang mengenalkan Syaripudin dengan koran. "Sampai akhirnya menurun ke anak-anak saya. Sekarang ini, setiap koran datang, itu kami rebutan ngebaca-nya. Ha ha ha...!"
2/03/2009
Syaripudin lahir pada tanggal 11 Agustus 1966 di desa Tiuh Balak Pasar, kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan dari pasangan H.Basyarudin glr Raja Mesila bin Syaripudin glr Tihang Marga asal Pakuan Ratu dan Hj. Siti ‘Aisyah binti Udin dari Banjar Masin, Baradatu. Di belakang nama Syaripudin ditambah Basyar, nama sang ayah, untuk lebih mengenalkan garis keturunannya. Dalam adat istiadat Lampung, sebagai panggilan kehormatan, ia biasa disapa oleh keluarga besar dan kerabatnya dengan gelar Tihang Marga.
Selepas menamatkan Sekolah Dasar Negeri 2 Setia Negara Baradatu, 1979, ia melanjutkan ke Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur hingga 1985, kemudian selama satu tahun lebih mengabdi di Madrasah Tsanawiyah dan ‘Aliyah Mathla’ul Anwar Baradatu sebagai tenaga pengajar sebelum melanjutkan studinya pada fak. Adab Universitas Islam Negeri Jakarta yang diselesaikan tahun 1991.
Pada tahun 1992, ia menikah dengan Asnah Yusfit S.Pd, asal Sumatera Barat kelahiran Pagar Alam yang kini berprofesi sebagai guru matematika pada MTsN 2 Bandar Lampung dan dikaruniai, Muhammad Ibnoe Nugraha (17 th) kelas 1 SMAN 2, Salsabila Adinda Syarif (9 th) kelas 4 SD al-Azhar Way Halim dan Muhammad Ibnoe Seeda (6 th) duduk di kelas 1 SD Permata Bunda Bandar Lampung.
Karir sebagai pegawai negeri sipil dimulai di staf Humas Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Lampung, 1992, kemudian pindah menjadi dosen fakultas Syari’ah IAIN Raden Fatah Palembang (1994-2000). Setelah pindah ke Palembang, ia melajutkan studi program Magister (S2) dan program Doktor (S3) di almamaternya Universitas Islam Negeri Jakarta (1995-2001). Selesai studi ia diserahi tugas sebagai Wakil Direktur Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang (2000-2005). Kemudian ia kembali ke Lampung menjadi dosen fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan (2005-2007), Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro (2007-2011), dan kini telah menjadi Guru Besar dalam bidang Pemikiran Politik dan Peradaban Islam di STAIN Metro.
Pria yang hoby olahraga sepakbola, bulutangkis, futsal dan tennis lapangan ini, juga aktif menjadi dosen tamu di Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, IAIN Raden Intan Lampung dan Magister Hukum Universitas Bandar Lampung. Di bidang kemasyarakatan, ia aktif sebagai anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan dewan pakar ICMI Bandar Lampung, komandan Resimen Mahasiswa Raden Intan Lampung, ketua harian Islamic Center propinsi Lampung, anggota pengurus Idaroh Wustho Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdhiyyah propinsi Lampung dan tenaga ahli gubernur Lampung bidang Kesra (2006-2008).
Dengan motto “Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti” dan “Sebaik-Baiknya Manusia adalah yang Paling Bermanfaat bagi Orang Banyak”, ditambah latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya serta niat yang lurus, insya Allah dengan ridho Allah dan do’a restu masyarakat, dapat mengabdi, berkarya dan beramal soleh yang bermanfaat untuk masyarakat.
1/20/2009
WAY KANAN, AKU INGIN MULAI “MENGENALMU”
0 comments Posted by Prof. Dr. Syaripudin Basyar, M.Ag. at 4:12 PMBagi kami, wacana ini tidak lantas sarat bernuansa politik, namun lebih kepada sebuah agenda yang dapat dijadikan alasan dan motivasi untuk memperbanyak perjalanan “silaturrahmi” ke tanah tumpah darah orangtuaku, kerabat, handai taulan dan kolega-kolega lama yang berdomisili di wilayah yang dikenal sebagai sentra tanaman keras, lada dan kopi sejak dulu. Motivasi lainnya yang tertanam adalah bahwa dengan segala keterbatasan pengalaman di bidang pendidikan, keagamaan dan kemasyarakatan lainnya yang kami miliki, mungkin dapat bertukar pikiran, gagasan dan bila mungkin dapat melakukan sesuatu “rembug karya” yang berguna bagi masyarakat, tentunya bersama berbagai elemen masyarakat di wilayah ini.
Diskusi di awal malam tadi berakhir tanpa kesimpulan tentang bagaimana rencana aksi atau program ke depan, namun setidaknya telah mempertautkan persepsi antara aku dan istriku untuk menghadapi suatu agenda penting di tahun 2009, rencana yang jika dilakoni akan menyita pikiran, waktu dan biaya. Memang tidak ada sembulan semangat berlebihan untuk agenda ini, seperti biasa kami menganut pandangan, menikmati proses dalam alur kehendak-Nya, adapun hasil, Sang Pencipta tentu telah menyiapkan formula terbaik, terindah dan tersayang. Tidak terasa, seiring desir angin malam menerpa dinding rumah, dingin mulai menyelinap di sela pori, kami tak kuasa menahan kantuk hadiah lelah, sementara Novemper segera berganti Desember. Kami mulai bergeser ke topik lain di tempat lain…. Selamat malam dan berdo’alah hari esok, masa depan kita di Way Kanan.
Labels: Memoar
TANJUNNGRAJA SAKTI DAN SPIRIT PERUBAHAN
0 comments Posted by Prof. Dr. Syaripudin Basyar, M.Ag. at 12:58 PMPerjalananku dihari sabtu 17 Januari 09 ke sebuah desa, Tanjung Raja Sakti kecamatan Blambangan Umpu Way Kanan bersama ayahku H. Basyarudin, Abahku Salih, adikku Ganda Putra dan ponakanku Aris menggunakan Innova silver metalik guna memenuhi undangan saudaraku, Sadek dan Ali Damsi untuk silaturrahmi dalam perhelatan ruwatan kampung dalam rangka ulangtahun desa yang kedua setelah secara definitif berdiri sendiri, terpisah dari induknya Tanjung Raja Giham. Kami tiba di desa yang masuk sekitar 500 meter dari pinggir Jalan Lintas Tengah Sumatera itu pada pada pukul 9.25 menit setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Bandar Lampung dan sempat singgah lebih kurang 30 menit di rumah orangtuaku di Tiuh Balak Pasar Baradatu untuk berganti pakaian.
Bagiku kali ini perjalanan yang kedua setelah 2 minggu sebelumnya kami menginjakkan kaki di dusun yang berpenduduk lebih kurang 1200 jiwa itu yang dipimpin oleh seorang kepala desa wanita berpendidikan sarjana, masih muda dan memiliki semangat pengabdian tinggi untuk membangun daerah tempat tinggalnya.Ia dan suaminya, Sadek bahu membahu mengajak masyarakat untuk memajukan kampung mereka.
Kedatangan kami memang telah dinanti-nantikan oleh panitia karena aku mendapat amanah memberi tausyiyah dalam rangka tahun baru Islam 1430 H dan syukuran kampung ke 2. Tiba di lokasi, kami langsung disambut Sadek dan panitia lainnya yang langsung mengarahkan kami ke kursi paling muka beriringngan dengan Camat Blambangan Umpu, Erlan dan Istri yang tiba di lokasi lebih dulu. Aku duduk diapit oleh adinda Yose Rizal, SE, ketua Partai HANURA Way Kanan dan Junjun, Alimudin Sulung sambil mendengarkan suguhan mawalan yang dimainkan oleh remaja2 muslim kampung.Terik mulai menyengat di bawah tenda yang dipasang di halaman sebuah sekolah dasar negeri diatas hamparan tanah berpasir. Namun panas yang menerpa itu tidak mengurangi antusiasme para tamu yang makin banyak berdatangan untuk mengikuti serangkain acara bersama penduduk kampung yang terlihat cukup bersemangat dan meriah.
setelah menikmati suguhan beberapa lagu bernuansa religi, protokol segera menyapa undangan, acara pun di mulai. Sambutan demi sambutan disampaikan oleh para pengisi acara, mulai dari panitia, kepala desa, wakil tamu, camat, pembacaan hstoris kampung dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada 21 anak yatim dari lingkungan penduduk desa, pemotongan kue tart ulang tahun, kemudian aku dipanggil untuk menyampaikan ceramah agama tentang hikmah tasyakkuran dan tahun baru Islam.
Dari berbagai pidato sambutan, aku terkesan dengan penyampaian Bapak Sadek. Ia mencoba mengemukakan sejarah berdirinya kampung Tanjung Raja Sakti yang dimulai dari sebuah dusun di desa Tanjung Raja Giham yang lokasinya berada di pinggir lahan perkebunan milik sebuah perusahaan kayu. Berkat usaha Kadus, Bapak Ibrahim yang didukung oleh Kades Giham, Bapak Alimudin Sulung,yang memang figur tokoh terkemuka dan tauladan masyarakat di sana, mereka mulai merintis usaha pendirin kampung difinitif dengan cara memperluas lahan yang diperoleh dari perusahaan kayu disana. Mereka pun secara bertahap mendatangkan pemukim baru dari daerah-daerah sekitarnya untuk menempati dusun tersebut. Akhirnya dengan perjuangan yang keras dan tanpa lelah, pada tahun 2007, dusun itu menjadi desa definitif yang bernama Tanjungraja Sakti. Untuk melengkapi struktur desa, mereka mengangkat pelaksana tugas kepala desa dan para kepala dusun yang kini mengepalai 6 dusun.
Gaya bicara Sadek yang polos dan berapi-api di atas panggung, telah menambah suasana semakin bersemangat dan tak jarang disambut hadirin dengan tepuk tangan meriah dan bergemuruh.Aku pun kerap senyum, tertawa kecil menyimak uraiannya. Secara jujur ia mengakui ketokohan para perintis pendiri kampungnya yang dengan penuh keberanian dan ulet menghadapi berbagai tantangan berat dalam perjuangan mereka. Ia pun sesekali memuji kepemimpinan istrinya sebagai kepala desa dan para sesepuh masyarakat yang telah bahu membahu, bergotong royong dan kompak untuk berperan dalam pembangunan kampung. Ia pun berterimakasih kepada pemerintah Way Kanan yang telah merintis pembangunan jalan batu di desanya. Sadek pun memaparkan betapa keras perjuangan rakyat desa itu yang telah berhasil membuka jalan baru sepanjang 11 km dengan cara swadaya, swakarsa dan swatenaga sehingga terbuka akses ke dan dari desa ke berbagai penjuru di sekitarnya.Sungguh karya besar yang telah berhasil ditorehkan oleh penduduk desa yang baru dua tahun terbentuk.
Tidak hanya kisah heroik ini yang membuat aku terkesan, di tengah-tengah kesederhanaan hidup dan kesehajaan prilaku warga desa yang terdiri dari beberapa etnis itu masih menunjukkan ketulusan hati dengan menyantuni anak-anak yatim yang berasal dari keluarga-keluarga kurang mampu. Iringan isakan tangis haru mengiringi prosesi penyerahan bingkisan bantuan berupa uang ini yang diserahkan secara bergiliran oleh para tokoh desa, masyarakat dan undangan lainnya. Sholawat kepada baginda Rasulullah, Muhammad s.a.w terus dilantunkan mengiringi suasana khusyu', khidmat dan penuh berkah tersebut.Aku tertegun menyaksikan pemandangan surgawi ini, aku bersyukur pada Allah, masih banyak masyarakat yang menurut kalangan tertentu, wong deso, ternyata memiliki semangat pengorbanan dan kepedulian yang ikhlas.
Labels: Wisy Mind